Pelanggaran etika dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi "Cyberbullying" By Kelompok 14 PTIK ( Indra Cahyadiansyah - 19215185, Wisnu Wickasono - 19215220, Elisya 19215210)
Apa itu cyberbullying?
Cyberbullying (perundungan dunia maya) ialah bullying/perundungan dengan menggunakan teknologi digital. Hal ini dapat terjadi di media sosial, platform chatting, platform bermain game, dan ponsel. Adapun menurut Think Before Text, cyberbullying adalah perilaku agresif dan bertujuan yang dilakukan suatu kelompok atau individu, menggunakan media elektronik, secara berulang-ulang dari waktu ke waktu, terhadap seseorang yang dianggap tidak mudah melakukan perlawanan atas tindakan tersebut. Jadi, terdapat perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban. Perbedaan kekuatan dalam hal ini merujuk pada sebuah persepsi kapasitas fisik dan mental.
10 Fakta Tentang Cyberbullying
1 – Lebih dari Sepertiga Siswa Menjadi Cyberbullied
Di semua rentang usia, siswa mengalami pelecehan online dengan kecepatan yang mencengangkan. Ini menjalankan keseluruhan dari kontak negatif berulang hingga pelecehan seksual hingga pengganggu yang berpura-pura menjadi orang lain dan memposting informasi pribadi atau palsu tentang mereka.
2 – Media Sosial adalah Platform Cyberbully #1
Sebagian besar sosialisasi anak muda terjadi di platform media sosial akhir-akhir ini, yang menjadikannya platform yang sering digunakan untuk perilaku jahat. Memantau penggunaan Instagram, TikTok, Twitter, dan Facebook dapat membantu mengurangi risiko.
3 – Hampir 25% Siswa Mengakui Perilaku Buruk
Anonimitas Internet membuatnya terlalu mudah bagi orang untuk memilih orang lain dan terlibat dalam perilaku intimidasi. Ini sering merupakan hasil dari bergabung dengan penghasut dalam upaya untuk menjadi bagian dari kelompok populer.
4 – Anak Perempuan Paling Sering Menderita Cyberbullying
Perilaku stereotip "gadis jahat" sering turun menjadi cyberbullying dan mempengaruhi anak perempuan dan perempuan muda dengan kecepatan yang mengejutkan. Penting untuk mengambil tindakan untuk membantu anak perempuan membela diri mereka sendiri dan membangun harga diri yang kuat dan komunitas yang positif.
5 – Mayoritas Yang Melihat Cyberbullying Tidak Melakukan Apa-apa
Meskipun beberapa bergabung, seperti yang disebutkan di atas, jauh lebih banyak orang yang menyaksikan perilaku intimidasi online tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya. Juga, sangat sedikit pengamat atau orang yang ditindas sendiri yang melaporkan perilaku tersebut kepada orang tua, guru, atau platform media sosial mereka.
6 – Penggunaan Smartphone Terkait dengan Peningkatan
Dengan sebagian besar anak-anak memiliki akses ke telepon mereka sendiri sebelum mereka berusia sepuluh tahun akhir-akhir ini, sulit untuk menghentikan perilaku intimidasi di aplikasi obrolan dan permainan interaktif paling populer. Ada akses yang lebih berkelanjutan yang menghasilkan lebih banyak pemuda yang terkena dampak.
7 – Game Online Biasa untuk Penindasan Siber
Semua game hadir dengan beberapa tingkat "pembicaraan sampah" yang menyenangkan, tetapi lebih banyak game yang terhubung dengan komunitas yang penuh dengan cyberbullying. Hal ini menyebabkan pengucilan, serangan kekerasan langsung, dan penghancuran kemampuan korban untuk menikmati permainan atau hiburan favorit mereka.
8 – Untuk Siswa LGBTQ+, Tarif Naik Lebih dari 50%
Seiring dengan faktor ras dan sosial ekonomi, inklusi dalam komunitas LGBTQ meningkatkan risiko ditindas di dunia maya dengan selisih yang besar. Meskipun langkah besar menuju penerimaan di generasi baru, terlalu banyak anak muda masih mengalami pelecehan dan jalan-jalan yang bertentangan dengan keinginan mereka.
9 – Penindasan Dunia Maya Menempatkan Remaja pada Risiko Bunuh Diri yang Lebih Tinggi ,Tingkat depresi, kecemasan, dan ide bunuh diri telah meningkat terus menerus untuk anak-anak dan remaja dalam dekade terakhir. Cyberbullying adalah salah satu faktor utama yang berkontribusi pada hal-hal mengerikan ini.
10 – Orang Tua, Guru, Administrator, dan Remaja Dapat Membantu Menghentikan Cyberbullying
Jika peningkatan prevalensi cyberbullying akan pernah berhenti, terserah semua orang untuk melakukan upaya untuk memperbaikinya. Platform media sosial, situs game, dan aplikasi obrolan juga harus memperketat batasannya dan menciptakan respons yang kuat terhadap perilaku intimidasi apa pun.
Setelah kita mengetahui apa itu bullying, maka kita akan membahas beberapa kasus perundungan yang sempat terjadi pada tahun 2022 di Indonesia, sebagai berikut:
Siswa SD di Bekasi Korban Bullying Ditendang hingga Diinjak
Berdasarkan berita yang saya dapat dari Suaramalang.com yang ditulis oleh Agung Sandy Lesmana dan Muhammad Yasir pada hari Rabu, tanggal 12 Januari 2022. Berita tersebut dibuat berdasarkan viralnya video siswa SD di Bekasi yang di-bully oleh teman-teman yang lebih besar darinya. Salah satu pengunggah video terkait kasus perundungan tersebut di media sosial twitter dengan nama akun @omtsur dengan caption atau tweet-annya yaitu "Twitter do your magic, bantu viralkan. Anak kelas 3 SD dibully secara enggak manusiawi oleh anak kelas 1 SMP di perumahan Mutiara Gading Timur (MGT) Bekasi,"Kronologinya menurut Agung Sandy Lesmana dan Muhammad Yasir yaitu: Bocah yang tersungkur karena dibully itu bernama AZ, ia baru kelas 3 SD dan berbadan kecil. Kejadian bully terjadi pada MInggu (9/1/2022), di mana AZ tengah bermain di blok belakang cluster B perumahan MGT Bekasi. Ia yang tengah bermain bola mulanya digangggu oleh DV yang menusuk-nusuk bokong AZ dan menyodoknya menggunakan kaki. Kemudian datang lagi ZE seorang siswa SMP yang ikut mengganggu AZ. ZE berpawakan besar tanpa alasan menendang perut AZ yang tengah main bola hingga tersungkur. AZ kemudian menangis dan sesak napas hingga sulit untuk bangun. "Melihat anak kecil itu jatuh, ZE kemudian malah tertawa-tawa mengejek sambil merekam dan berkata camera invisible," tulis akun Facebook Susana Sri Handayanti dalam statusnya yang di-screenshoot @omstur. Pada peristiwa tersebut, komplek perumahan sepi sehingga tak ada orang dewasa yang melarang. "Lalu datanglah teman-teman yang lain yang ikut menertawakan sambil terus mempercandai mengatakan mau membakar badan Az yang masih tengkurap menangis," tulis Susana. "Sesekali anak-anak itu juga menjejakkan kaki ke pantat AZ yang masih saja trus tengkurap menangis menahan sesak," imbuh lainnya.
Komentar
Posting Komentar